Lupa Kata Sandi
Silakan masukkan email Anda!
HR Sekarang Bisa Tahu Kamu Akan Resign Sejak Hari Pertama—Ini Caranya

Ini bukan soal mistis atau menebak nasib. Dunia kerja saat ini bergerak dengan data, pengalaman, dan pola perilaku yang berulang. Dari ratusan hingga ribuan karyawan yang pernah masuk dan keluar, HR belajar satu hal penting: resign jarang terjadi secara tiba-tiba. Tanda-tandanya sering muncul sangat awal.
HR modern tidak lagi hanya mengurus administrasi. Mereka berperan sebagai pengamat perilaku organisasi. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mencegah kerugian besar akibat turnover.
Biaya karyawan resign itu mahal—mulai dari rekrutmen ulang, pelatihan, hingga dampak ke tim. Karena itu, HR kini fokus pada early signal, sinyal-sinyal kecil yang sering diabaikan oleh karyawan sendiri.
Cara HR “Membaca” Kandidat Sejak Awal
1. Cara Kamu Bertanya di Hari Pertama
Percaya atau tidak, pertanyaan awal bisa memberi banyak gambaran.
Karyawan yang hanya bertanya soal:
jam pulang,
cuti,
fleksibilitas kerja,
belum tentu negatif, tapi jika tidak diimbangi rasa ingin tahu soal peran dan kontribusi, HR mulai mencatatnya sebagai potensi ketidakcocokan jangka panjang.
Sebaliknya, karyawan yang bertanya tentang:
ekspektasi 3–6 bulan ke depan,
ukuran keberhasilan,
dinamika tim,
biasanya menunjukkan orientasi bertahan dan berkembang.
2. Bahasa Tubuh dan Respons Emosional
HR dan atasan terbiasa membaca bahasa non-verbal:
terlalu defensif saat diberi arahan,
terlihat “hadir secara fisik tapi tidak mental”,
respons datar saat dijelaskan visi perusahaan.
Hal-hal ini bukan kesalahan, tapi menjadi pola jika terus berulang. Dari sini, HR mulai memprediksi tingkat engagement ke depan.
3. Cara Kamu Merespons Ketidaknyamanan Kecil
Hari pertama hampir selalu tidak nyaman. Sistem belum dipahami, ritme belum pas, dan ekspektasi belum jelas.
Yang diperhatikan HR adalah:
apakah kamu langsung mengeluh,
menyimpan jarak,
atau justru mencoba memahami dulu.
Karyawan yang cepat menyimpulkan “ini bukan tempat saya” di minggu pertama, secara statistik lebih rentan resign dini.
4. Konsistensi antara Saat Interview dan Hari Pertama
HR menyimpan catatan interview lebih detail dari yang kamu kira.
Jika saat interview kamu terlihat:
sangat antusias,
proaktif,
penuh ide,
namun di hari pertama menjadi pasif dan menarik diri, HR mulai melihat adanya gap ekspektasi. Gap inilah yang sering menjadi akar resign dalam 3–6 bulan pertama.
5. Cara Kamu Berinteraksi dengan Tim, Bukan Atasan
Menariknya, HR lebih memperhatikan cara karyawan baru berbicara dengan rekan setara dibanding saat berbicara dengan atasan.
Apakah kamu:
mau mendengar,
bertanya tanpa merasa paling tahu,
atau justru menjaga jarak berlebihan?
Karyawan yang gagal membangun koneksi sosial awal sering merasa “tidak punya tempat” dan akhirnya memilih pergi.
HR Sekarang Bisa Tahu Kamu Akan Resign Sejak Hari Pertama—Ini Caranya
Jika HR sudah “tahu”, kenapa tidak langsung melakukan sesuatu?
Jawabannya: prediksi bukan vonis. HR paham bahwa manusia bisa berubah jika diberi ruang, konteks, dan dukungan. Data hanya membantu mereka:
menentukan siapa yang perlu lebih sering diajak check-in,
siapa yang butuh kejelasan peran,
dan siapa yang perlu pendampingan awal.
HR yang baik tidak menunggu resign terjadi—mereka mencoba mencegahnya.
Yang jarang diakui adalah: bukan hanya karyawan yang dinilai, perusahaan juga sedang diuji.
Banyak resign dini terjadi bukan karena karyawan “tidak kuat”, tapi karena:
ekspektasi kerja tidak realistis,
onboarding yang minim,
budaya kerja yang berbeda dari janji interview.
HR yang jujur tahu bahwa sinyal resign dini sering kali adalah alarm sistem, bukan kesalahan individu semata.
Jika kamu baru masuk kerja, ini bukan soal berpura-pura sempurna. Justru sebaliknya:
Beri waktu pada diri sendiri untuk beradaptasi
Komunikasikan kebingungan lebih awal
Jangan cepat memberi label “tidak cocok” di minggu pertama
Bangun hubungan, bukan hanya menyelesaikan tugas
Resign cepat bukan aib, tapi resign karena salah baca situasi sering bisa dicegah.
HR memang semakin canggih membaca kemungkinan resign sejak hari pertama. Tapi tujuan akhirnya bukan untuk mencurigai, melainkan menciptakan kecocokan jangka panjang antara manusia dan pekerjaan.
Di dunia kerja modern, bertahan bukan soal kuat atau lemah—melainkan soal saling memahami sejak awal. Dan sering kali, masa depan sebuah karier ditentukan bukan saat resign, tapi saat hari pertama dimulai.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/kerja-pertama-menentukan-masa-depan-ini-faktanya/
Artikel Sebelumnya
Kerja Pertama Menentukan Masa Depan? Ini Faktanya