Lupa Kata Sandi
Silakan masukkan email Anda!
Ketika Pekerjaan Tidak Lagi Menjelaskan Siapa Kita

Namun hari ini, jawaban itu tidak lagi sesederhana dulu.
Seseorang bisa bekerja di tiga tempat berbeda dalam satu tahun. Ada yang berganti peran tanpa berganti kantor. Ada yang “punya pekerjaan”, tapi sulit menjelaskan apa sebenarnya yang ia kerjakan. Jabatan semakin panjang, istilah semakin abstrak, tapi maknanya justru makin kabur.
Pekerjaan perlahan berhenti menjadi identitas.
Dulu, pekerjaan melekat erat dengan nilai diri.
Apa yang kita kerjakan mencerminkan siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan posisi kita di masyarakat.
Sekarang, banyak orang bekerja bukan karena panggilan, bukan pula karena cita-cita, melainkan karena kebutuhan untuk bertahan. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan tidak lagi mewakili kepribadian, keyakinan, atau bahkan minat seseorang.
Akibatnya muncul jarak.
Kita menjalani pekerjaan, tapi tidak merasa diwakili olehnya.
Tidak sedikit orang yang ketika pulang kerja merasa harus “melepaskan” perannya, seolah pekerjaan hanyalah kostum sementara. Identitas asli baru terasa hidup di luar jam kerja—di rumah, di komunitas kecil, atau bahkan hanya di dalam pikiran sendiri.
Perubahan ini bukan semata-mata kesalahan individu. Dunia kerja bergerak terlalu cepat untuk dijadikan fondasi identitas yang stabil.
Kontrak sementara, sistem proyek, pekerjaan fleksibel, hingga peran digital yang terus bergeser membuat pekerjaan sulit diberi makna jangka panjang. Apa yang kita kerjakan hari ini bisa saja tidak relevan beberapa tahun ke depan.
Dalam situasi seperti ini, melekatkan identitas sepenuhnya pada pekerjaan justru terasa berisiko. Ketika pekerjaan berubah atau hilang, kita ikut kehilangan pegangan tentang siapa diri kita.
Maka tidak heran jika banyak orang mulai berhati-hati: bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi tidak sepenuhnya menyerahkan jati diri pada pekerjaan.
Di dunia kerja modern, kita dituntut profesional—efisien, adaptif, dan terukur. Namun sebagai manusia, kita tetap membawa emosi, nilai, dan kebutuhan untuk merasa berarti.
Ketika pekerjaan tidak memberi ruang untuk itu, muncullah konflik batin. Kita bisa terlihat baik-baik saja di luar, tapi merasa hampa di dalam. Bukan karena kurang bersyukur, melainkan karena pekerjaan tidak lagi memberi jawaban atas pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah ini mencerminkan diriku?”
Banyak orang akhirnya memisahkan dua hal:
pekerjaan sebagai alat bertahan hidup
identitas sebagai sesuatu yang dibangun di luar pekerjaan
Ini bukan sikap malas atau tidak loyal, melainkan bentuk adaptasi.
Ketika Pekerjaan Tidak Lagi Menjelaskan Siapa Kita
Ketika pekerjaan tidak lagi menjelaskan siapa kita, mungkin saatnya berhenti memaksa pekerjaan untuk melakukan tugas itu.
Identitas bisa lahir dari banyak hal: cara kita memperlakukan orang lain, nilai yang kita pegang, hal-hal kecil yang kita rawat dengan konsisten. Pekerjaan tetap penting, tapi bukan satu-satunya penentu makna diri.
Di era ini, menjadi manusia utuh mungkin berarti menerima bahwa kita lebih besar daripada pekerjaan kita—dan itu tidak apa-apa.
Pekerjaan bisa berubah. Jabatan bisa hilang.
Namun cara kita menjalani hidup, bersikap, dan memberi makna—itulah yang perlahan membentuk siapa kita sebenarnya.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/kerja-hybrid-gagal-ini-solusi-yang-mulai-dipakai-perusahaan-global/
Artikel Sebelumnya
Kerja Hybrid Gagal? Ini Solusi yang Mulai Dipakai Perusahaan Global