Lupa Kata Sandi
Silakan masukkan email Anda!
Nama Jabatan Sekarang Lebih Penting dari Pekerjaannya

Fenomena ini bukan kebetulan. Ia tumbuh seiring perubahan cara dunia kerja memandang nilai, status, dan pengakuan.
Secara ideal, jabatan dibuat untuk menjelaskan fungsi. Ia membantu orang lain memahami peran, tanggung jawab, dan posisi seseorang dalam sebuah organisasi. Namun dalam praktiknya, jabatan kini sering berfungsi sebagai simbol—penanda status sosial, tingkat “kepantasan”, bahkan legitimasi diri.
Tidak jarang dua orang dengan pekerjaan hampir sama memiliki jabatan yang sangat berbeda. Yang satu terdengar strategis dan prestisius, yang lain terdengar teknis dan biasa saja. Padahal, beban kerja dan kontribusinya bisa jadi setara, bahkan terbalik.
Di titik ini, jabatan berhenti menjelaskan pekerjaan. Ia justru mulai menutupi kenyataan pekerjaan itu sendiri.
Media sosial profesional, kartu nama digital, dan profil daring ikut memperkuat fenomena ini. Nama jabatan menjadi sesuatu yang ditampilkan, dipoles, dan dipertontonkan. Ia harus terdengar “naik level”, meski substansi pekerjaannya belum tentu berubah.
Akibatnya, banyak orang terdorong untuk mengejar perubahan jabatan, bukan perbaikan cara kerja. Fokus bergeser dari apa yang dikerjakan ke apa sebutannya. Dari dampak nyata ke kesan luar.
Dalam budaya seperti ini, pekerjaan yang sunyi tapi penting sering kalah pamor dibanding jabatan yang terdengar strategis, meski kontribusinya minim.
Ironisnya, jabatan yang terdengar besar tidak selalu membuat pemiliknya merasa berdaya. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi sumber tekanan.
Nama jabatan menciptakan ekspektasi. Semakin tinggi dan mentereng sebutannya, semakin besar tuntutan untuk selalu terlihat tahu, mampu, dan layak. Banyak orang akhirnya terjebak dalam peran yang harus dipertahankan, bukan pekerjaan yang benar-benar mereka pahami atau nikmati.
Di sini, jabatan tidak lagi membebaskan, tapi mengikat.
Nama Jabatan Sekarang Lebih Penting dari Pekerjaannya
Ketika nama jabatan lebih penting dari pekerjaannya, kita kehilangan kejujuran dalam bekerja. Pekerjaan tidak lagi diceritakan apa adanya, melainkan dibungkus agar terdengar bernilai.
Hal ini juga menciptakan jarak antarmanusia di tempat kerja. Kita lebih mengenal orang dari titel yang menempel, bukan dari cara mereka bekerja, berpikir, atau berkontribusi. Hubungan menjadi formal, kaku, dan penuh asumsi.
Padahal, di balik jabatan apa pun, pekerjaan tetaplah serangkaian aktivitas nyata yang membutuhkan keterampilan, tanggung jawab, dan kehadiran manusia.
Fenomena ini tidak berarti jabatan sepenuhnya tidak penting. Ia tetap dibutuhkan sebagai struktur. Namun ketika jabatan menjadi tujuan utama, bukan alat, dunia kerja kehilangan keseimbangannya.
Mungkin sudah saatnya kita kembali bertanya:
apakah yang kita kejar adalah nama, atau makna dari apa yang kita kerjakan?
Sebab pada akhirnya, jabatan bisa berubah, diganti, atau dihapus. Tapi cara kita bekerja—jujur atau tidak, berdampak atau tidak—akan selalu meninggalkan jejak. Dan di sanalah nilai sebenarnya berada, meski tidak selalu tercermin dalam satu baris nama jabatan.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/ketika-pekerjaan-tidak-lagi-menjelaskan-siapa-kita/
Artikel Sebelumnya
Ketika Pekerjaan Tidak Lagi Menjelaskan Siapa Kita